Aku jatuh cinta pada semua alunannya. Cara dia bercerita dan menasehatiku. Tapi aku percaya, cintaku butuh penghayatan yang extra hati-hati.
Kenapa aku bisa jatuh cinta hanya pada sosok yang demikian sederhana dan jauh dari menarik? Cintaku tidak bisa dilogika, bahkan dipikirkan pun jangan! Akan sulit mendapatkan jawabnya. Tapi aku yakin, ketika aku jatuh cinta padanya, aku merasa bahwa aku sangat “perfect”. Selalu tersenyum bahagia, dan aku selalu ingin menjadi seseorang yang penting dalam hidupnya. Bahkan saat aku tahu dia hanya menganggapku adik sekaligus sahabatnya.
Namanya Yanuar. Sosoknya tidak begitu menarik, wajahnya pun biasa saja. Tidak ganteng, hanya saja dia manis dan berwibawa. Di setiap matanya, aku menemukan sesuatu yang tidak kutemukan dari laki-laki lain. Lebih tepatnya semangat yang selalu ada untuk membuatku bangkit dan tersenyum.
Seperti hari itu, saat kubawa dia di sebuah tempat yang berada di sebuah tempat yang berada di sebelah aula sekolah kami. Awalnya, aku hanya ingin mengajaknya duduk berdua, tapi karena aku tidak bisa menahan konflik yang ada di hatiku, setetes demi setetes air mata jatuh di pipiku sembari aku bercerita tentang masalahku padanya. Diapun terdiam mendengarkan semua pengakuan dosaku.
Detik demi detik berlalu, kemudian berganti jam. Lalukami terdiam. Dia mengamatiku yang terus menerus meneteskan air mata tanpa henti. Katanya,”kau terlalu memikirkan masalah ini. Lihatlah dirimu, dandananmu tidak seperti yang biasanya. Kau bukan Prita yang kukenal dulu. Aku dulu sangat mengagumimu, tapi sekarang tidak. Sekarang aku bertanya, apakah kau takut mengambil sebuah resiko?” Aku pun mengangguk lemah. Sementara itu dia terus menghujaniku dengan kata-kata nya yang kurasakan amat mengiris hatiku. Dia bilang, “Hanya orang-orang bodoh yang mau berperilaku sepertimu. Bangunlah Ta…. Tidak ada gunanya kau memikirkan dia yang belum tentu juga ikut memikirkan dia yang belum tentu juga ikut memikirkanmu. Simpan tangisanmu untuk keluargamu.” Dan aku, aku hanya bisa menangis….
Dua jam kami lalui dalam keheningan. Aku masih bisa merasakan bagaimana udara dan hawa saat itu. Semua yang kami bicarakan, masih kuingat jelas. Sampai suatu saat ada seseorang yang menyanyikan sebuah lagu untuk kami berdua. Semua masih jelas dan sangat indah…Dan sampai detik ini, aku menganggapnya begitu penting dan sangat berarti dalam hidupku….
Seminngu berlalu, kami makin dekat saja bagaikan 2 sejoli yang tengah dimabuk cinta. Dan benar, sejak saat itu aku menjadi sangat sayang dan ingin selalu didekatnya. Akupun menjadi sangat narsis dengan berkata pada sahabatku, bahwa aku tidak mau perhatian dia terbagi- bagi.
Aku tak ingat begitu jelas, kenapa aku begitu sakit hati karenanya. Mungkin sakit hati karena aku melihat dia terlalu perhatian pada seorang perempuan yang baru saja dikenalnya, sedangkan aku yang dikenalnya lebih dari 2tahun, tidak begitu diperdulikannya. Selain itu, dia juga semakin menjahuiku. Aku sangat patah hati, aku ingin mati begitu melihat dia seperti itu. Tapi jangan, itu bukan diriku. Aku adalah seorang perempuan yang “Falling In Love” dan kebetulan orang yang kucintai tidak sadar akan perasaanku. Hanya sesederhana itu, jangan sampai aku mati.
Tapi aku semakin jatuh cinta pada sosoknya ketika aku tidak mengerti apa maunya. Aku semakin menyukainya saat dia mengacuhkanku. Aku akan semakin sayang padanya saat dia memilih mengambil sebuah resiko tanpa mengajakku, dengan alasan tidak mau melibatkanku.
Mungkin aku butuh lagi untuk merenung. Hanya untuk menikmati liriknya hingga terbawa perasaan dan menangis. Bahkan, aku tak ingin mengingat lirik lagu yang annti aku dengar. Aku tak mau. Aku hanya sedang jatuh cinta. Dan cintaku bukan seperti alunan lagu.
Mungkin, aku jatuh cinta bukan pada sosoknya, tapi pada sifat dan kewibawaannya. Dan juga cara bicaranya yang selalu bisa membuatku memiliki semangat hidup. Dengan cara dia berbicara dan cara dia menasehatiku, aku menjadi sangat jatuh cinta padanya. Hanya satu yang aku sesalkan, kenapa dia tidak bisa mengerti perasaan yang kumiliki untuknya? Seharusnya dia tahu perasaanku, karena aku tak ingin mencintai dia yang tidak mencintaiku. Seperti dia mencintai kekasihnya yang dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar